Catatan Redaksi

Menjemput Cahaya di Atas Roda: Catatan dari Aspal Kediri

551
×

Menjemput Cahaya di Atas Roda: Catatan dari Aspal Kediri

Share this article

Oleh: Bimo Gunawan (Redaksi Aksennews)
KABUPATEN KEDIRI – Ada yang berbeda dengan udara pagi di Kediri pada Minggu (2/11/2025) kala itu.

Suara deru mesin ratusan motor, mulai dari Vespa tua yang eksentrik, motor bebek harian, hingga deruman moge yang menggetarkan dada, bukanlah sekedar kebisingan jalanan. Itu adalah simfoni keberagaman yang bergerak harmonis dari dataran rendah Ngadiluwih menuju sejuknya kawasan pegunungan Mojo.

Di bawah bendera Yakuza Motorrad, sebuah momentum besar tercipta. Namun, ini bukan sekadar Sunmori (Sunday Morning Ride) biasa yang mengejar top speed atau pamer modifikasi. Ini adalah perjalanan tentang sebuah transformasi.

Bagi telinga awam, nama “Yakuza” mungkin memicu imajinasi tentang sindikat gelap. Namun, melalui sentuhan Den Gus Thuba (Thuba Topo Broto Maneges), nama itu mengalami dekonstruksi makna yang luar biasa.

“Yang Awalnya Kotor, Ujungnya Zuhud Abadi.”

Sebuah akronim yang mendalam. Sebuah pengakuan bahwa setiap manusia memiliki masa lalu, setiap jiwa pernah bersinggungan dengan debu hitam kehidupan. Namun, di bawah asuhan cucu sang ulama kharismatik KH. Hamim Tohari Jazuli (Gus Miek) ini, aspal jalanan diubah menjadi sajadah panjang untuk berdakwah.

Sejak titik kumpul di Mabes Yakuza Mafiaz Community (Cafe Akar Coffee), atmosfer persaudaraan begitu kental. Kita melihat bagaimana seorang pengusaha terpal asal Bojonegoro, Slamet Fudin, bercengkerama akrab dengan pemuda lokal Kediri. Tidak ada sekat antara pemilik motor sport mahal dengan pengendara motor matic standar.

Tertibnya iring-iringan yang dikawal dua orang santri yang juga anggota polisi Satlantas Polres Kediri membuktikan satu hal: komunitas motor bisa menjadi teladan di ruang publik.

Fandi, sang Ketua Yakuza Motorrad, dengan rendah hati menyebut ini sebagai bentuk “Ukhuwah Islami” di atas roda dua.

Redaksi mencatat, apa yang dilakukan Den Gus Thuba melalui Yakuza Motorrad adalah bentuk Dakwah Kreatif. Beliau memahami bahwa merangkul generasi muda tidak selalu harus dari atas mimbar masjid. Terkadang, pesan-pesan kebaikan justru lebih meresap melalui getaran setang motor, di sela-sela rehat ngopi di Café Prongos, atau saat menikmati camilan bersama yang penuh canda tawa di warung makan di Simpang Lima Gumul.

Ini adalah warna baru dalam dunia otomotif Indonesia. Yakuza Motorrad membuktikan bahwa hobi dan spiritualitas bukanlah dua kutub yang berseberangan. Keduanya bisa berjalan beriringan dalam satu lintasan.

Saat mesin-mesin motor itu akhirnya didinginkan di penghujung acara, semangat yang mereka bawa justru sedang hangat-hangatnya. Yakuza Motorrad telah menanamkan benih bahwa menjadi pengendara motor yang hebat bukan soal seberapa cepat kita sampai ke tujuan, tapi seberapa bermanfaat kita bagi sesama selama perjalanan.

Maka, benar kiranya jargon yang mereka usung: “Yakuza Motorrad: KESATRIA DI ATAS RODA”
Mereka bukan sekedar bikers. Mereka adalah musafir yang sedang menjemput cahaya di atas aspal kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *