KEDIRI (aksennews.com) – Sosok ulama muda yang dikenal dengan gaya nyentriknya, Den Gus Thuba Topo Broto Maneges, kembali mencuri perhatian publik melalu Organisasi yang dibuatnya.
Kali ini, beliau memperkenalkan Organisasi “YAKUZA MANEGES” bukan sebagai identitas kelompok gelap, melainkan sebagai manifesto transformasi ruhani dari masa lalu yang kelam menuju cahaya spiritual.
DGT, begitu ia kerap akrab disebut, dengan tegas memberikan definisi YAKUZA yang mendalam :
“Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi.”
Akronim ini menjadi jembatan bagi mereka yang merasa memiliki masa lalu yang kelam dan penuh kekeliruan untuk tetap memiliki harapan akan ketenangan batin.
DGT menekankan bahwa penggunaan istilah ini bertujuan untuk menghapus stigma negatif dan mengubahnya menjadi energi positif.
Beliau memandang bahwa setiap individu, termasuk mereka yang terbiasa hidup keras di jalanan, memiliki hak dan potensi untuk melakukan loncatan spiritual.
“Maka ini bukan lagi identitas kriminal, tapi simbol transformasi ruhani para petarung,” ucap DGT dalam pesan singkat namun padat makna tersebut, Minggu (22/2/2026).
Langkah DGT ini dinilai sebagai bentuk dakwah yang sangat adaptif. Dengan merangkul istilah-istilah yang akrab di telinga kalangan marjinal, beliau berhasil menyisipkan nilai-nilai Zuhud— sebuah konsep tinggi dalam tasawuf tentang melepaskan keterikatan duniawi dalam hati.
Istilah “MANEGES” yang melekat pada nama dan gerakannya juga mempertegas filosofi Jawa tentang upaya memusatkan seluruh jiwa dan raga untuk menghadap Sang Pencipta.
Melalui pendekatan ini, DGT mengajak masyarakat untuk berhenti menghakimi masa lalu seseorang dan lebih fokus pada proses perubahan menuju kebaikan yang konsisten (istiqomah).
Untuk diketahui, pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pintu pertobatan dan kemuliaan selalu terbuka bagi siapa saja yang memiliki keberanian untuk bertransformasi, tanpa memandang seberapa buruk titik awal perjalanan mereka.
Yakuza Maneges, kerap disebut “Organisasi Ninja“, sebuah organisasi yang didedikasikan sebagai wadah transformasi spiritual dan sosial. Dibentuk pada 2 Juli 2024 di Kediri, organisasi ini hadir dengan visi kuat untuk merangkul, membenah, dan menggalakkan misi religius serta kemanusiaan.
Yakuza Maneges bukan sekedar identitas baru, melainkan simbol pergerakan yang mengusung prinsip Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Humanity and Social Justice (Kemanusiaan dan Keadilan Sosial).
Di bawah kepemimpinan Den Gus Thuba, organisasi ini membawa filosofi mendalam: “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi”. Pesan ini menegaskan bahwa Yakuza Maneges adalah ruang bagi para “Petarung” yang ingin melakukan hijrah secara perlahan dengan pendekatan persuasif..
Sebagai organisasi militan, Yakuza Maneges membekali anggotanya dengan karakter Intelektual dan Professional.
Mereka bergerak dengan motto operasional disiplin: “Kesatria, Militan, Intelektual, Professional, Diam, Senyap, Eksekusi, Tanggung Jawab.” Strategi ini mencerminkan keseriusan dalam menjalankan tugas tanpa perlu publikasi yang berlebihan, namun tetap berdampak nyata.
Organisasi ini mempunyai visi berikut :
- PENJAGA KAUM LEMAH : Melindungi mereka yang tidak berdaya/terdzolimi.
- PEMBELA ORANG BENAR : Menegakkan kebenaran di tengah masyarakat, pejabat, bahkan ulama’ sekalipun.
- PEMBENAH ORANG SALAH : Merangkul dan membimbing individu agar kembali ke jalan yang benar.
Dalam menjalankan fungsinya, Yakuza Maneges dikenal dengan mentalitas pantang menyerah. Slogan “GASS TANPA AMPUN”, menjadi pelecut semangat bagi para anggota untuk konsisten dalam menegakkan keadilan dan menjalankan misi sosial tanpa keraguan.
Kehadiran Yakuza Maneges sejak berdiri di tahun 2024 ini menandai babak baru dalam metode dakwah inklusif di Kediri dan sekitarnya.
Dengan merangkul elemen masyarakat yang sering dianggap keras, Den Gus Thuba berhasil mengubah energi tersebut menjadi kekuatan positif berfokus pada pengabdian kepada sang maha pencipta alam semesta dan sesama manusia.











