Kediri (aksennews.com) – Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh penampakan patung macan putih di sebuah pertigaan jalan Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri. Bukan karena kegarangannya, melainkan karena raut wajahnya yang dinilai publik “lucu” dan tidak biasa bagi seekor predator.
Menanggapi gelombang viral tersebut, Cak Suwari, seniman di balik karya fenomenal ini, akhirnya angkat bicara. Kepada jurnalis media ini yang menemuinya langsung tepat di lokasi berdirinya patung pada Sabtu (27/12/2025) siang, ia membedah alasan teknis dan filosofis di balik desain patung pesanan Kepala Desa tersebut.
Cak Suwari menjelaskan bahwa rancangan patung tersebut merupakan sebuah kesengajaan. Ia menghindari detail anatomi macan yang sedang mengaum dengan taring tajam demi menjaga psikologi masyarakat yang melintas.
“Memang sengaja dirancang (sesuai permintaan pak kades -red) agar tidak terlihat seram. Apalagi jika mulutnya dibuat menganga (mangap) dengan taring yang menonjol, saya khawatir malah memberikan kesan menakutkan,” ujar Cak Suwari sambil menunjukkan beberapa detail patungnya.
Dikatakannya, lokasi patung yang berada tepat di pertigaan jalan menjadi pertimbangan utama. Menurut Cak Suwari, area tersebut merupakan jalur aktif yang sering dilalui warga, termasuk anak-anak kecil.
- * Kekhawatiran Trauma: Cak Suwari tidak ingin anak-anak yang melintas merasa takut atau enggan turun dari kendaraan karena melihat sosok patung yang beraura mistis atau ganas.
- * Destinasi Selfie: Strategi ini terbukti berhasil. Alih-alih dihindari, area pertigaan tersebut kini justru menjadi spot favorit baru bagi warga.
- * Interaksi Publik: Sejak viral, banyak warga yang berhenti hanya untuk sekadar berswafoto (selfie) bersama sang macan putih.
Lebih lanjut, meski menuai beragam komentar di media massa, Cak Suwari mengaku bangga karyanya bisa diterima oleh masyarakat luas dengan cara yang unik. Baginya, seni di ruang publik bukan hanya soal kemiripan anatomi, melainkan bagaimana karya tersebut bisa berinteraksi positif dengan lingkungannya.
“Jika (dilihat -red) sekarang banyak warga yang senang berfoto di sini, artinya tujuan awal saya tercapai. Patung Macan ini hadir untuk menyapa warga, bukan untuk menakut-nakuti,” pungkasnya menutup pembicaraan.
Penulis: Bimo Gunawan
Reporter: Bambang Reni Dokumentasi Lapangan bersama Cak Suwari di lokasi patung Balongjeruk.











