DENPASAR, BALI ( Aksennews.com ) —– Minggu, 25 Oktober 2026. Gelanggang tajen yang biasanya riuh oleh taruhan jutaan rupiah mendadak senyap di berbagai pelosok Bali. Penutupan serentak arena sabung ayam berbau judi ini terjadi menyusul rotasi kepemimpinan tertinggi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Kepolisian Daerah (Polda) Bali.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah gelanggang papan atas tak lagi beroperasi. Arena tajen Banjar Mertajaya (Kecamatan Denpasar Barat: Denbar), Tatiapi (Kabupaten Gianyar), hingga arena Desa Anggungan dan Desa Kapal (Kabupaten Badung) tampak kosong tanpa aktivitas. Kondisi serupa terlihat di kawasan strategis Jalan Badak Agung, Kecamatan Denpasar Timur (Dentim), serta arena Banjar Moding di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.
Fenomena “tiarapnya” penyelenggara tajen ini bertepatan dengan berjalannya komando baru di Mako Polri dan Mako Polda Bali. Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, yang resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pada Kamis (1/10/2026) pagi WIB, mematok pemberantasan perjudian dan narkoba sebagai prioritas penegakan hukum.
Dua pekan berselang, tongkat komando Polda Bali resmi beralih ke tangan Irjen Pol. Dr. Pasma Royce, S.I.K., M.H., menggantikan Irjen Pol. Daniel Adityajaya, S.I.K., setelah serah terima jabatan di Mabes Polri, Jumat (9/10/2026) pagi WIB. Perubahan struktur pimpinan ini dinilai memberikan tekanan psikologis kuat bagi para pengelola perjudian di daerah.
Pihak Polda Bali hingga saat ini belum mengonfirmasi keberadaan instruksi tertulis terkait penutupan menyeluruh tersebut. Kendati demikian, publik kini menanti apakah penghentian aktivitas judi tajen ini merupakan manuver sementara para pengelola untuk “wait and see”, ataukah awal dari penertiban hukum secara konsisten dan permanen di Pulau Dewata. (JR77)











