AksenNews
KABUPATEN KEDIRI– Di tengah kepungan arus modernisasi yang kian deras, Kabupaten Kediri memilih tetap teguh berpijak pada akar tradisi. Langkah ini dipertegas dalam perhelatan Dialog Budaya bertajuk “Penguatan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa” yang digelar di kawasan sakral Sendang Tirto Kamandanu, Desa Menang, Kecamatan Pagu, Rabu (15/4).
Forum yang berlangsung di bawah rimbunnya pohon-pohon tua Dusun Menang tersebut tidak sekadar menjadi ajang temu kangen. Justru menjadi ruang strategis yang mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, hingga para penganut penghayat kepercayaan untuk merumuskan kembali posisi kearifan lokal di era digital.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, dalam pemaparannya menegaskan bahwa budaya adalah benteng terakhir identitas bangsa. Menurutnya, tanpa adanya upaya pelestarian yang berkelanjutan, jati diri masyarakat akan mudah tergerus oleh zaman.
“Budaya adalah jati diri bangsa. Jika tidak dirawat bersama, maka akan tergerus. Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk memastikan budaya tetap hidup, terutama dengan melibatkan generasi muda sebagai pewaris,” ujar Mustika di hadapan para peserta dialog.
Senada dengan hal itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kediri, Yuli Marwanto, menyoroti aspek spiritualitas sebagai kemudi kehidupan. Ia memandang bahwa kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bukan hanya soal ritual, melainkan dasar untuk membangun harmoni dan toleransi di tengah keberagaman.
Dukungan juga mengalir dari aparat penegak hukum. Kasubsi Intelijen Kejari Kediri, Bayu, yang turut hadir memberikan perspektif menarik. Ia menilai bahwa masyarakat yang memiliki akar budaya yang kuat cenderung memiliki moralitas dan integritas yang tinggi.
“Budaya yang kuat akan melahirkan karakter masyarakat yang taat hukum. Ini adalah kunci stabilitas dan ketertiban wilayah,” tegasnya.
Dialog ini bukan sekadar retorika. Pemerintah Kabupaten Kediri berkomitmen menindaklanjuti forum ini dengan program-program nyata, mulai dari penguatan kurikulum pendidikan berbasis kearifan lokal hingga pembinaan intensif bagi padepokan dan komunitas seni di seluruh wilayah Kediri.
Acara yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh Kapolsek Pagu AKP Khalis Joewasono, perwakilan Koramil 0809-19/Pagu, Presidium MLKI Gunawan Sugiono, serta Kepala Desa Menang Linda Indarwati. Kehadiran para juru kunci sendang dan tokoh spiritual se-Kabupaten Kediri semakin mempertegas pesan bahwa di Kediri, kemajuan zaman dan kelestarian tradisi dapat berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, Bumi Panjalu kembali membuktikan diri sebagai daerah yang tidak hanya mengejar pembangunan fisik, tetapi juga kokoh menjaga ruh spiritualitas sebagai fondasi peradaban.











