Selain Al-Qur’an, amalan lain seperti puasa wajib maupun sunnah (Senin-Kamis, puasa Daud, dan puasa Dahran) juga disebut akan menjadi penolong manusia.
Untuk memperkuat pesan mengenai kekuatan spiritual Al-Qur’an sebagai penenang jiwa, Mbah Gus Robert membagikan sebuah kisah sejarah mengenai Presiden pertama RI, Ir. Soekarno (Bung Karno), saat diasingkan oleh Belanda ke Sumatera Utara sekitar tahun 1948–1949.
Dikisahkan, Bung Karno sempat merasa cemas sebagai manusia biasa setelah menerima informasi dari juru masaknya bahwa ada rencana pembunuhan terhadap dirinya keesokan hari. Dalam situasi genting tersebut, Bung Karno mengambil air wudhu dan meraih Al-Qur’an kecil yang selalu dibawanya.
Sembari memejamkan mata, Bung Karno membuka dan menunjuk salah satu ayat, yang ternyata jatuh pada Surat Al-An’am ayat 117. Setelah membaca ayat tersebut, hati Bung Karno seketika menjadi tenang. Beliau kemudian memeluk erat Al-Qur’an tersebut seraya bergumam mengagumi kebesaran firman Allah yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW, serta merasa dirinya sangat kecil di hadapan Sang Penyusun Takdir.
Selain kisah Bung Karno, Mbah Gus Robert juga menceritakan kisah penuh hikmah dari zaman sahabat Rasulullah, Abdullah bin Mas’ud, yang tercatat dalam lembaran riwayat hadis.
Saat sedang dalam perjalanan di wilayah Kufah, Irak, Abdullah bin Mas’ud mendengar suara nyanyian sayup-sayup dari kejauhan. Ketika mendatangi sumber suara—yang diibaratkan seperti tempat hiburan malam atau diskotik pada zaman sekarang—ia mendapati seorang pemusik bernama Zadzan sedang bernyanyi dengan suara yang sangat merdu sembari memainkan alat musik banjo.

Mendengar keindahan suara tersebut, Abdullah bin Mas’ud bergumam lirih dalam hati, berpikir betapa indahnya jika suara sebadai itu dipergunakan untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Rupanya, bisikan lirih sang sahabat terdengar oleh Zadzan. Nyanyian seketika berhenti, banjo diletakkan, dan Zadzan turun dari panggung untuk mencari tahu siapa yang berbicara.










